15 Januari 2026 12:06

Diibaratkan; ilmu tanpa pengulangan bagaikan unta yang tak diikat, mudah melarikan diri.

Di markiz Aisyah, kami tak ingin ilmu kami mudah pergi, makanya kami harus tekun melakukan mudzakarah di pagi dan malam hari.

Saat berkumpul, kami tidak hanya mengulangi pelajaran, tetapi juga saling melengkapi catatan dan memperdalam pemahaman. Kegiatan ini tidak hanya menguatkan materi pelajaran tetapi juga melatih kemampuan berbicara dan berpendapat di depan orang lain.

Efek positif dari rutinitas ini sangat terasa. Suasana belajar menjadi lebih ilmiah, sejuk dipandang, ukhuwah terasa dan yang terpenting, kami berharap keutamaan yang dijanjikan oleh Nabi Muhammad ﷺ:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، ويتَدَارسُونَه بيْنَهُم، إِلاَّ نَزَلتْ علَيهم السَّكِينَة، وغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَة، وَحَفَّتْهُم الملائِكَةُ، وذَكَرهُمْ اللَّه فيِمنْ عِنده

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Kitab-Nya, dan mendiskusikannya di antara mereka, melainkan ketenangan turun kepada mereka, rahmat menyelimuti mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di sisi para malaikat yang bersama-Nya.”

Dengan mudzakarah, kami mengikat ilmu, mendekatkan diri kepada Allah, dan meraih ketenangan serta berkah-Nya. Ini adalah langkah kami untuk tidak hanya menjaga ilmu, tetapi juga memperkuat ikatan dan persaudaraan kami.

Saat ini, sudah ada 6 kelompok mudzakarah yang terbentuk dari total 45 thullab Indonesia yang melakukan studi di Markiz Aisyah.

Walaupun sebagian kami terpaut usia, tapi rasa haus akan ilmu menyatukan kami dalam satu kelompok untuk mudzakarah bersama.

Di antara manfaat yang kami dapatkan dari mudzakarah adalah belajar membuat mind map dan bagan.

Dari situ kami berlatih memetakan konsep, menyederhanakan dan mengelompokkan masalah, mengambil kesimpulan, serta berlatih berpikir secara logis, runut, terstruktur, dan kreatif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *