4 Februari 2026 10:47

Sobat pejuang ilmu, pernahkah kita merasa sudah lama belajar tetapi pemahaman kita tidak kunjung tumbuh? Ilmu tidak berkembang?

Banyak kitab sudah dibaca, taklim dan kajian tidak pernah absen, tapi entah mengapa seolah ilmu kita mentok sampai situ-situ saja.

Ini bukanlah fenomena baru. Salah seorang ulama pernah membuka pembahasan ini dengan kalimat yang sangat jujur:

اعْلَم أَن كثيرا من النَّاس يقضون السنين الطوَال فِي تعلم الْعلم بل فِي علم وَاحِد وَلَا يحصلون مِنْهُ على طائل وَرُبمَا قضوا أعمارهم فِيهِ وَلم يرتقوا عَن دَرَجَة المبتدئين

“Ketahuilah bahwa banyak manusia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari ilmu—bahkan satu ilmu saja—namun tidak mendapatkan hasil yang berarti. Sebagian dari mereka menghabiskan seluruh hidupnya di dalamnya, tetapi tidak naik dari level pemula.”

Lalu muncul pertanyaan besar: Di manakah letak masalahnya?

Dua Faktor Penyebab Ilmu Tidak Berkembang

Menurut beliau, bahwa kondisi ini tidak lepas dari dua faktor:

  1. Lemahnya daya tangkap dan kemampuan untuk memahami gambaran konseptual masalah. Faktor ini di luar ranah kita.
  2. Kesalahan metode pengajaran, ini yang paling sering terjadi dan kembalinya kepada kompetensi seorang guru.

Menariknya, kesalahan metode ini biasanya muncul dalam dua bentuk ekstrem yang saling bertentangan.

Kesalahan Pertama

Sebagian guru—bahkan dengan niat baik—menjejali murid dengan maklumat yang melebihi kapasitas atau belum saatnya:

Misalnya:

  • Murid baru belajar nahu, tapi disibukkan berhari-hari bahkan berbulan-bulan membahas basmalah dan hamdalah.
  • Atau langsung diberi kitab beserta syarah, hasyiah, bahkan hasyiah dari hasyiah.
  • Dipenuhi khilaf ulama, bantahan, dan polemik, sebelum memahami dasar masalahnya.

Tanpa disadari, hal ini menanamkan di benak murid bahwa: Ilmu ini sulit dan hanya bisa dipahami oleh manusia dengan kecerdasan di atas rata-rata.

Kesalahan Kedua

Sebaliknya, ada pula guru yang sekedar membaca kitab asal lewat. Tanpa menjelaskan maksud kalimat dan tidak menjawab kesulitan yang dihadapi murid.

Lebih parah lagi, ia marah jika muridnya bertanya meminta penjelasan, menganggapnya bodoh atau tidak memperhatikan pelajaran. Ironisnya, hal ini biasa terjadi pada guru yang sebenarnya ia sendiri tidak menguasai ilmu yang diajarkan.

Solusi untuk Guru Maupun Murid

Sebagai murid, ketahuilah bahwa belajar ada tahapannya. Ibarat tangga, seorang harus menaikinya satu tingkat demi satu tingkat.

Demikian pula dalam belajar, mulailah dengan satu matan dasar, pahami kandungannya tanpa meluas ke syarah. Jika dirasa telah mantap, ambil satu syarah untuk ditelaah sambil menguji pemahaman kita sebelumnya. Yang salah diperbaiki yang kurang dilengkapi.

Jika dirasa semakin paham, ambil hasyiah dari syarah itu (jika ada) untuk ditelaah sebagaimana langkah sebelumnya. Lalu tutup kitab, fokus pada pemahaman dan mendalami konsep masalahnya. Cobalah untuk menjelaskan dengan bahasa sendiri tanpa harus terikat dengan gaya penjelasan muallif.

Dari sini baru kita membacakannya kepada seorang guru untuk memperbaiki kesalahpahaman yang ada, atau menambah maklumat yang diberikan.

Adapun jika kita adalah seorang guru, ingat bahwa mengajar adalah ibadah, amanat, sekaligus menjadi sebuah seni yang harus dipelajari. Jika sukses, pahalanya akan sangat besar dan jasa kita akan dikenang oleh para murid. Sebaliknya, satu kesalahan dalam mengajar dapat membuat sang murid malah membenci ilmu selamanya.

Karena itu, luruskan niat, ikhlaskan hati. Mengajarlah untuk mencerdaskan, bukan untuk menampakkan bahwa kitalah yang paling cerdas.

Secercah Harapan

Semoga Allah luruskan langkah kita dalam belajar maupun mengajar. Semoga kelak lahir dari murid-murid kita orang-orang besar yang siap mencerdaskan bangsa, dan menuntun mereka kepada kebahagiaan di dunia dan akhiratnya.

Apakah Antum tertarik untuk tip-tip belajar lainnya? Beritahu kami di kolom komentar.


Diintisarikan dari kitab:

  • Ibnu Badran, Al-Madkhal ila Madzhab Imam Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *