Di tengah arus modernisasi yang riuh dan menyita perhatian banyak orang, masih ada sudut bumi yang luput dari sorotan. Salah satunya desa Urfuth. Letaknya jauh di pedalaman, terpisah dari kebisingan kota dan gemerlap pembangunan.
Warga Urfuth hidup sederhana. Mayoritas bekerja sebagai penggembala kambing dan unta. Hampir di setiap keluarga, deru napas ternak adalah musik harian mereka. Lanskapnya kering, berbatu, dan sunyi. Desa ini termasuk wilayah Dau’an, sebuah kota di bagian barat provinsi Hadramaut.
Perjalanan menuju ke sana tidak mudah. Kendaraan harus melewati jalan terjal dan berbatu karena lokasinya berada di dataran tinggi. Hingga kini, aspal masih “enggan” menyentuh tanahnya, membiarkan desa ini terisolasi dalam sunyi.
Namun, sunyi bukan berarti kosong. Belakangan ini, Urfuth bukan lagi sekadar desa gembala yang tenang. Aktivitas dakwah dari kalangan Sufiyyah mulai aktif menjangkau wilayah itu. Hampir di setiap tahun, khususnya di bulan Ramadan, rombongan dari Darul Musthafa datang dan mengambil peran di masjid-masjid setempat. Mereka mengisi majelis, menyampaikan ajaran, dan membangun kedekatan dengan masyarakat.
Kritik terhadap dakwah kelompok ini bukanlah tanpa alasan yang kuat dalam timbangan syariat. Di tengah masyarakat awam, sering kali disusupkan ajaran yang menyimpang dari kemurnian tauhid, seperti praktik istighatsah (meminta pertolongan) kepada penghuni kubur atau tokoh yang dianggap wali, serta keyakinan wihdatul wujud yang mengaburkan batasan antara Khalik dan makhluk.
Selain itu, adanya pengkultusan berlebihan terhadap figur guru hingga derajat maksum (terbebas dari dosa) berisiko menjauhkan umat dari ketergantungan mutlak kepada Allah dan tuntunan Al-Quran serta Sunnah. Fenomena inilah yang dipandang sebagai ancaman nyata bagi kemurnian akidah masyarakat di pelosok.
Kehadiran mereka di wilayah terpencil ini adalah sebuah alarm keras bagi kita bahwa kekosongan figur pembimbing agama akan segera diisi oleh siapa pun yang bergerak paling cepat. Jika bukan kita yang menanamkan benih sunnah, maka pihak lain akan menanamkan duri bidah.

Menyikapi urgensi tersebut, pera pengampu dakwah di Dau’an mengambil langkah strategis. Dalam agenda penugasan thullab Markiz Aisyah di bulan Ramadhan tahun ini, sebuah rombongan diterjunkan ke Maqar, kampung yang bertetangga dengan Urfuth.
Penugasan ini membawa beberapa misi penting:
- Menjaga akidah, dengan membentengi masyarakat dari pemahaman yang tidak selaras dengan Al-Quran dan As-Sunnah.
- Menghidupkan majelis ilmu, agar masyarakat tetap mendapatkan pembinaan agama meski akses informasi terbatas.
- Memakmurkan masjid, dengan menjadi imam salat lima waktu sekaligus memimpin tarawih.
Untuk kalian, para dai Ahlu Sunnah yang saat ini sedang berjuang di medan dakwah di manapun, ingatlah satu hal: Jangan pernah merasa lemah.
ولا تهنوا ولا تحزنوا وأنتم الأعلون إن كنتم مؤمنين
“Janganlah kamu merasa lemah, jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)
Musuh-musuh kebenaran dan para penyeru bidah sedang bekerja siang dan malam dengan totalitas pengorbanan. Jika mereka saja begitu militan dalam menyebarkan kekeliruan yang mereka anggap kebaikan, maka kita yang memegang pelita kebenaran seharusnya memiliki tekad dengan sejuta keteguhan.
Lelah itu manusiawi, namun menyerah adalah opsi yang tidak boleh ada dalam kamus seorang dai. Tetaplah kokoh, perbaharui ikhlas, dan teruslah melangkah demi tegaknya sunnah di pelosok bumi.


