9 Maret 2026 20:42

Ramadan selalu menghadirkan kisah perjuangan yang mungkin tidak tercatat dalam sejarah manusia, namun terukir kuat di langit sebagai amal saleh. Ia adalah bulan di mana keikhlasan diuji, pengorbanan dibuktikan, dan ukhuwah diteguhkan.

Di Markiz Aisyah, Ramadan tahun ini menjadi saksi semangat ta’awun dan kesungguhan dalam berkhidmat kepada agama Allah Ta‘ala.

Giat Ramadan 1447 H di Luar Markiz

Sebagian besar thullab Markiz Aisyah diutus ke berbagai daerah untuk menjadi imam tarawih, mengisi ceramah, menyampaikan khutbah Jumat, serta membimbing kaum muslimin. Mereka berangkat membawa amanah dakwah, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, beramal shalih, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (QS Fusshilat: 33)

Adapun kami yang tersisa di markiz hanyalah sebagian kecil dari para thullab. Namun sedikitnya jumlah tidak mengurangi semangat. Justru di situlah terasa kuatnya makna firman Allah:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS Al-Ma’idah: 2)

Matahari Terbenam di Markiz Aisyah

Giat Ramadan 1447 H di Markiz Aisyah

Sejak awal Ramadan, hari-hari kami dipenuhi berbagai kesibukan. Ada yang belanja ke pasar pada siang hari untuk memenuhi kebutuhan dapur dan takjil. Ada yang menyiapkan hidangan berbuka, ada yang memasak nasi dan lauk untuk makan malam, dan ada pula yang menyiapkan sahur di penghujung malam.

Semua dilakukan bersama, saling melengkapi, tanpa merasa paling berjasa.

Setiap azan magrib berkumandang, kurma, buah-buahan, gorengan, dan minuman dingin disajikan dengan sederhana namun penuh keberkahan. Kami teringat sabda Nabi:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)

Ta’awun Ramadan di Markiz Aisyah

Menjelang malam, teh susu hangat—yang di sini dikenal dengan sebutan syahi halib—disiapkan untuk para jamaah tarawih. Gelas dan termos ditata dengan rapi, dan hati pun ditata agar tetap ikhlas.

Kami yakin, sekecil apa pun pelayanan kepada kaum muslimin akan bernilai di sisi Allah Ta‘ala, sebagaimana sabda Rasulullah:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR Muslim)

Di sela-sela kesibukan Ramadan, setiap hari Jumat kami juga melaksanakan kerja bakti bersama. Ada yang membersihkan masjid, membersihkan lingkungan sekitar markiz, mengumpulkan dan membakar sampah, serta ada pula yang membersihkan kamar mandi dan tempat wudu.

Kegiatan sederhana ini menjadi bagian dari khidmah kepada rumah Allah dan lingkungan sekitar, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab serta kebersamaan di antara para thullab.

Suasana Berbuka di Markiz Aisyah

Dars Ramadan di Markiz Aisyah

Di tengah padatnya aktivitas, dars Syaikhuna Abbas tetap berjalan. Halaqah ilmu tidak pernah ditinggalkan. Kami tetap duduk mempelajari Al-Quran dan hadis, karena Ramadan bukan alasan untuk meninggalkan ilmu. Bahkan Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Quran:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Dars terbagi menjadi dua waktu, masing-masing berdurasi kurang lebih setengah jam. Dars pertama dilaksanakan bakda zuhur, yaitu dars tafsir dengan tema Ta‘līq ‘ala ayati as-Shiyam (Surah Al-Baqarah ayat 183–187). Dalam kajian ini beliau menjelaskan ayat-ayat yang berkaitan dengan puasa, termasuk pembahasan tentang nasikh wa mansukh, tafsir ayat, serta hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa Ramadan.

Adapun dars kedua dilaksanakan bakda asar, yaitu dars tauhid dengan membahas kitab At-Tawassul Anwa‘uhu wa Ahkamuhu karya Imam Al-Albani. Dalam kajian ini dijelaskan berbagai bentuk tawassul beserta hukumnya, disertai pemaparan syubhat-syubhat yang sering muncul serta bantahan terhadapnya.

Menghidupkan Malam di Markiz Aisyah

Kami juga berusaha menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan qiyam dan tilawah, berharap termasuk dalam sabda Nabi:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa menegakkan (salat malam di bulan) Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ramadan di Markiz Aisyah mengajarkan kami bahwa perjuangan tidak selalu berada di atas mimbar. Terkadang ia hadir di majelis ilmu sebagai murid, di dapur yang sederhana, di pasar yang ramai, di balik piring yang dicuci, dan di halaman yang dibersihkan.

Semoga Allah menerima amal kami, menjaga saudara-saudara kami yang diutus berdakwah, dan menjadikan Ramadan ini sebagai saksi atas ta’awun, ilmu, dan ibadah yang kami hidupkan bersama.

Amin.

By Zaid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *