Selasa, 29 Sya’ban 1447 H/17 Februari 2026 M
Dari jauh, debu-debu pasir membumbung tinggi, mengepul ke udara akibat putaran roda yang melintas di atasnya. Tak lama kemudian, terlihat sebuah mobil putih mulai memasuki pekarangan markiz. Mobil itulah yang akan mengantar kami ke ‘Ain ba Ma’bad, sebuah perkampungan kecil yang terletak di provinsi Syabwah, negara Yaman.
Kami adalah kelompok terakhir yang berangkat untuk penugasan dakwah Ramadan 1447 H, adapun kelompok-kelompok yang lain telah lebih dahulu diberangkatkan ke daerah-daerah yang tersebar di penjuru Yaman.
Kami segera memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Teman-teman kami yang melihatnya pun turut membantu. Setelah segala sesuatu dirasa siap, maka kami pun berpamitan.
Perjalan menuju ‘Ain ba Ma’bad diperkirakan akan memakan waktu kurang lebih 5 jam.
Selama di perjalanan, kami menunggu keputusan pemerintah terkait kapan awal Ramadan. Dan benar saja, ketika malam tiba, mulailah terdengar gema takbir dan bacaan al-Quran dari para imam masjid yang saling bersahut-sahutan melaksanakan shalat tarawih. Pertanda bahwa puasa akan dimulai pada esok hari di hari Rabu. Berbeda dengan Indonesia yang akan memulai puasanya pada hari kamis sesuai dengan arahan pemerintah yang ada di sana.
Sesampainya di ‘Ain ba Ma’bad, kami pun segera disambut dengan sapaan hangat oleh beberapa ikhwah yang ada di sana. Mereka telah menyiapkan hidangan makan malam yang terasa begitu istimewa. Sungguh betapa nikmatnya ukhuwah karena Allah.
Keesokan harinya, alhamdulillah Syaikh Muhammad Basumbul hafizhahullah menyempatkan waktu untuk duduk bermajelis bersama kami. Di majelis yang singkat itu, beliau bertanya keadaan kami dan juga kabar dari guru kami yaitu Syaikh Abbas dan Syaikh Zakariya hafizhahumallah.
Di kesempatan itu pula, Syaikh Muhammad Basumbul memberikan nasehat yang berharga kepada kami.
كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ: أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ، ثُمَّ يَدْعُوْنَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ: أَنْ يَتَقَّبَلَهُ مِنْهُمْ
“Mereka (para salaf) berdoa kepada Allah agar diperjumpakan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya. Setelah itu mereka berdoa agar diterima amal ibadahnya selama enam bulan berikutnya (setelah bulan Ramadhan).”
Beliau memberikan wejangan bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang sangat dinantikan oleh para salaf terdahulu. Mereka berdoa agar dipertemukan dengan bulan yang mulia ini. Di antara doa yang para salaf panjatkan ialah:
اللَّهُمَّ سَلِّمْنِيْ إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِيْ رَمَضَانَ، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّيْ مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, berilah keselamatan untukku hingga sampai bulan Ramadhan, perjumpakanlah aku dengan bulan Ramadhan dan terimalah amal ibadah dariku.”
Setelah duduk bermajelis bersama Syaikh Muhammad Basumbul 🇧🇼, kami mulai bermusyawarah terkait pembagian kelompok dan perencanaan kegiatan. Perlu diketahui, bahwa kami di sini berjumlah 6 orang yang akan dibagi menjadi 3 kelompok:
- 3 santri di Jaulahmar
- 1 santri di Jil’ah
- 2 santri di Qumri
Kami akan saling berbagi tugas terkait pelaksanaan salat tarawih, khutbah Jumat, pengajaran al-Quran dan kajian singkat seputar Ramadan
Sore itu, Syaikh Muhammad Basumbul baru saja selesai menyampaikan pelajarannya. Kami pun mulai bersiap membentuk halaqah al-Quran untuk anak-anak yang berada di sekitar masjid As-Sunnah, Jaulahmar. Tentu ini adalah pengalaman pertama bagi kami sekaligus bentuk pelatihan dalam memberikan pengajaran menggunakan bahasa Arab.

Kami berkenalan dengan anak-anak yang berada di masing-masing halaqah. Kami juga menyimak bacaan al-Quran mereka.
Namun ada satu hal yang membuat kami sedih dan juga prihatin, ternyata masih banyak di antara mereka yang belum bisa membaca al-Quran dengan bacaan yang baik, dalam keadaan mereka adalah orang-orang Arab. Bahkan beberapa dari mereka telah beranjak remaja dan tidak bisa membaca al-Qur’an meskipun dengan melihat mushaf.
Tak sampai di situ, sebagian orang tua mereka sendiri bahkan belum pandai membaca al-Quran (karena notabene mereka sejak kecil telah sibuk bekerja sebagai nelayan). Tentu ini membuat kami prihatin dan bersedih.
Usia dini atau juga sering disebut dengan golden age adalah usia emas anak. Masa ini sangat penting untuk diperhatikan, karena pada fase ini pertumbuhan anak berkembang sangat cepat dan pesat dalam menangkap apa yang diajarkan kepadanya.
Namun yang sangat disayangkan adalah sikap acuhnya sebagian orang tua terhadap pendidikan sang anak. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sehingga melalaikan tanggung jawabnya dalam mendidik dan mengarahkan buah hatinya. Padahal keadaan seorang anak itu sangat bergantung dengan kondisi orang tuanya, sebagaimana disebutkan di dalam hadits,
“Setiap anak yang lahir itu dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Melihat kondisi ini, maka kami pun merasa terpanggil untuk bersemangat mendidik dan mengajarkan al-Quran kepada anak-anak khususnya di ‘Ain ba Ma’bad sesuai dengan kemampuan yang kami miliki.
Sebagai penutup, maka di sini kami ingin mengingatkan para orang tua, janganlah kalian abai dari pendidikan anak-anak kalian. Ketahuilah bahwa pedidikan anak itu sangatlah penting dalam menentukan masa depan mereka. Didiklah anak-anak kalian dengan pendidikan islam yang dibangun di atas al-Quran dan Hadits.
Begitu pun dengan para thalibul ilmi dan juga da’i, teruslah kalian belajar memperdalam ilmu agama. Karena sesungguhnya umat ini, sangat menanti kehadiran kalian. Mereka membutuhkan ilmu yang dapat membimbing mereka ke arah kehidupan yang lebih baik. Wallahu al-muwaffiq.


