Cahaya senja mulai tampak, menandakan waktu berbuka tidak lama lagi akan tiba. Namun jari ini masih sibuk membalas pesan-pesan yang sudah lama tertumpuk. Saat itu saya sedang duduk di atas tumpukan batu di sebuah bangunan yang belum rampung pengerjaannya di desa tempat saya berada sekarang.
Minimnya jaringan internet memaksa saya berjalan menuju toko terdekat agar bisa kembali berkabar dengan keluarga dan kerabat di tanah air.
Ketika sedang asyik menatap layar gawai, tiba-tiba seorang bapak tua dengan imamah terjuntai di pundaknya menghampiri. Dengan salam yang lantang, ia menggenggam tangan saya sambil berkenalan, lalu bertanya,
“Kamu orang mana?”
Pertanyaan seperti ini sudah sangat akrab di telinga saya selama berada di desa ini. Maka saya pun menjawab, “Saya orang Indonesia. Kalau bapak sendiri dari mana?” Pertanyaan itu sedikit mencairkan suasana canggung di antara kami.
Setelah berbincang beberapa saat, bapak tersebut mulai memahami tujuan kami berada di desanya. Namun percakapan kami tidak berhenti di situ. Beliau bertanya,
“Jika saya ingin menunaikan kewajiban zakat fitrah, berapa yang harus saya keluarkan?”
Saya pun menjawab sesuai dengan ilmu yang saya ketahui,
“Bapak cukup mengeluarkan satu sha’ dari makanan pokok negeri ini. Jika dihitung dengan timbangan sekarang, kira-kira sekitar tiga kilogram menurut sebagian pendapat para ulama.”
Setelah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, beliau pun pamit untuk melanjutkan aktivitasnya.

Pertanyaan yang sederhana seperti ini mungkin sudah sering kita dengar, khususnya bagi para penuntut ilmu. Namun bagi sebagian masyarakat awam, perkara seperti ini bisa jadi adalah sesuatu yang belum mereka ketahui.
Peristiwa serupa juga pernah saya alami. Seusai melaksanakan salat Jumat, seorang bapak menghampiri saya dan bertanya,
“Bagaimana hukum puasa bagi orang tua yang sudah tidak mampu lagi berpuasa?”
Saya menjawab, “Jika memang sudah tidak mampu berpuasa karena usia tua dan tidak ada harapan untuk mampu kembali, maka ia menggantinya dengan membayar fidyah, yaitu memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan.”
Bagi para penuntut ilmu, pertanyaan seperti ini mungkin mudah untuk dijawab. Namun tidak demikian bagi saudara-saudara kita yang belum mempelajari ilmu agama.
Dari kisah-kisah sederhana ini kita bisa mengambil pelajaran tentang betapa pentingnya ilmu bagi diri kita dan juga bagi orang lain.
Masih banyak di antara kaum muslimin yang belum mengetahui hal-hal dasar dalam agama mereka. Sebagian mungkin belum mengetahui sunnah-sunnah dalam berwudu, keutamaan salat rawatib, bahkan ada pula yang belum memahami sebagian bacaan dalam salat, padahal salat adalah ibadah yang diwajibkan setiap hari.
Padahal kita semua mengetahui bahwa tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini adalah untuk beribadah kepada Allah.
Allah Taala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat: 56)
Jika demikian tujuan hidup kita, maka bagaimana mungkin kita bisa beribadah dengan benar tanpa ilmu?
Karena itulah, jalan untuk dapat beribadah dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ adalah dengan mempelajari ilmu agama.
Selain menuntut ilmu, kita juga memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kebaikan kepada orang lain sesuai kemampuan kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat.” (HR Al-Bukhari)
Hadis ini mengajarkan kepada kita pentingnya menyampaikan kebaikan di jalan Allah. Mungkin sesuatu yang kita anggap kecil justru menjadi pintu hidayah bagi orang lain. Bisa jadi pula sesuatu yang kita anggap sepele menjadi sebab seseorang kembali kepada jalan yang benar.
Oleh karena itu, tugas penting yang perlu kita jalani adalah bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan berusaha menyebarkannya di tengah-tengah umat.
Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk senantiasa istiqamah dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang bermanfaat bagi kaum muslimin.
Dan semoga Allah membalas setiap amal kebaikan dengan sebaik-baik balasan.


