Dalam penggunaannya, kedua kata ini (kritis dan krisis) tampak serupa. Sehingga karena terbiasa, kita pun sering menerima begitu saja dan menganggapnya sama tanpa mempertanyakannya.
Tapi, apakah keduanya memang sama? Atau justru memiliki sedikit perbedaan yang selama ini tidak kita sadari?
Mari kita bahas.
Kritis dan krisis sebenarnya memiliki makna dan fungsi yang sedikit berbeda secara tata bahasa dan konteks penggunaan.
Kritis adalah kata sifat (adjektiva). Kata ini menggambarkan keadaan yang genting atau mendesak.
Contoh:
“Pasien itu sedang kritis.”
“Persediaan logistik berada di titik kritis.”
Adapun krisis, dalam praktiknya sering digunakan sebagai kata benda (nomina), apalagi jika dibentuk menjadi sebuah frasa. Seperti: krisis ekonomi, krisis moral, dan lain sebagainya, merujuk pada suatu situasi sulit atau guncangan besar yang memengaruhi sistem, organisasi, atau kehidupan seseorang.
Contoh:
“Krisis yang melanda ini menumbangkan ekonomi keluarga saya.”
“Krisis ekonomi ini ditangani dengan cepat oleh pemerintah.”
Walaupun secara asal, krisis merupakan adjektiva (kata sifat). Contoh:
“Dalam kondisi krisis, kita harus banyak meminta pertolongan kepada Allah.”
Gunakan “kritis” jika konteksnya:
Menjelaskan kondisi genting (biasanya menyangkut nyawa, kesehatan, atau keadaan darurat teknis)
Gunakan “krisis” jika konteksnya:
Menjelaskan situasi keruntuhan, kemerosotan, atau gejolak besar, seperti dalam aspek ekonomi, politik, sosial, atau identitas diri.
Contoh Penggunaan yang Kurang Tepat
❌ “Ekonomi keluarga saya sedang dilanda kritis.”
✔️ “Ekonomi keluarga saya sedang dilanda krisis.”
❌ “Setelah tiga hari koma, Ali akhirnya melewati masa-masa krisisnya.”
✔️ “Setelah tiga hari koma, Ali akhirnya melewati masa-masa kritisnya.”
Kalimat kedua lebih tepat daripada yang pertama, walaupun boleh juga menggunakan kata ‘krisis’ di sini.
Selain menunjukkan keadaan yang genting atau darurat, kata kritis juga memiliki makna lain yang sangat umum digunakan, yaitu menunjuk pada cara berpikir yang tajam, logis, dan analitis.
Dalam konteks ini, kata kritis biasanya menggambarkan sikap intelektual yang tidak mudah menerima sesuatu tanpa pertimbangan rasional.
Contoh penggunaan:
“Penuntut ilmu harus memiliki sikap kritis terhadap informasi yang beredar.”
“Dia menyampaikan kritik dengan cara yang kritis namun konstruktif.”
Makna ini tentu sangat berbeda dari “kritis” dalam kalimat seperti, “Pasien sedang dalam kondisi kritis“. Tetapi akarnya tetap sama yakni menyangkut hal-hal penting yang memerlukan perhatian dan pemikiran serius.
Menariknya, makna “kritis” dalam konteks berpikir atau bersikap ini justru lebih sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam lingkungan pendidikan, media, dan diskusi publik.
Frasa “Krisis”
Kata “krisis” kerap disandingkan dengan kata lain sehingga menjadi frasa baru, dan hal ini akan memperdalam maknanya.
Contoh: “Krisis ekonomi, krisis pangan, krisis identitas”.
Semua frasa ini berfungsi sebagai kata benda yang membawa makna kemerosotan dan kemunduran serius yang terjadi pada berbagai aspek kehidupan.
Perbedaan antara kritis dan krisis memang cukup samar jika dilihat sekilas. Namun dengan memahami fungsi dan makna masing-masing, kita akan lebih cermat dan tepat dalam menggunakannya.
Ingin belajar tentang apa itu adjektiva, nomina, dan kelas-kelas kata lainnya? Yuk, jawab di kolom komentar.
Berkolaborasi dengan Al-Baihaqi Pena


