15 Maret 2026 23:21

Perbedaan Penentuan Awal Ramadan, Memengaruhi Penentuan Lailatul Qadar?

Sebagaimana telah masyhur diketahui oleh kaum muslimin, bahwa lailatul qadar terjadi pada salah satu malam dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, dan tidak berulang dalam satu tahun.

Hal ini dipahami dari penyebutan Allah Taala dengan kata “lail” (malam) dalam bentuk tunggal, yang menunjukkan bahwa ia terjadi pada satu malam tertentu saja.

Penentuan Lailatul Qadar

Pada asalnya, lailatul qadar lebih diharapkan terjadi pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir, meskipun tidak menutup kemungkinan terjadi pada malam genap.

Para ulama juga menyebutkan bahwa malam yang paling kuat harapannya adalah malam ke-27. Hal ini berdasarkan riwayat dari sahabat Ubay bin Ka‘b radhiyallahu ‘anhu, yang bersumpah bahwa malam tersebut terjadi pada malam ke-27.

Permasalahan kemudian muncul ketika terjadi perbedaan dalam penentuan awal Ramadan di berbagai negeri kaum muslimin. Sebagian negeri memulai puasa karena hilal terlihat, sementara negeri lain menggenapkan bulan Sya‘ban menjadi tiga puluh hari karena hilal tidak terlihat.

Dalam kondisi seperti ini muncul pertanyaan:

Bagaimana menentukan malam ke-27 yang dimaksud, sementara awal Ramadan berbeda antara satu negeri dengan negeri lainnya?

Penjelasan Para Ulama

Para ulama menjelaskan bahwa dalam keadaan seperti ini terdapat dua pendekatan:

  1. Mengikuti penanggalan negeri yang menetapkan awal Ramadan berdasarkan rukyat hilal.

Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengaitkan puasa dengan rukyat Hilal. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.

  1. Mengikuti penanggalan Makkah.

Sebagian ulama berpendapat mengikuti penanggalan Makkah, karena Makkah memiliki kedudukan khusus sebagai pusat. Sebagaimana dalam penentuan waktu wukuf pada haji. Apabila terjadi perbedaan dalam penentuan hilal Zulhijjah, maka waktu wukuf tetap mengikuti tanggal yang ditetapkan di Makkah.

Kesimpulan

Bagaimanapun, perbedaan dalam penentuan awal Ramadan tidak seharusnya menjadi sebab berkurangnya kesungguhan seorang muslim dalam menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan. Yang lebih utama adalah memperbanyak ibadah pada seluruh malam tersebut, agar tidak terluput dari keutamaan lailatul qadar.

Wallahu a‘lam.

Faedah dari Syaikhuna Abbas al-Jaunah hafizhahullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *