Wilayah Dau’an, Hadramaut dikenal sebagai daerah yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat. Hingga saat ini mayoritas penduduk Dau’an masih berpegang pada keyakinan sufisme yang telah lama berkembang di tengah masyarakat.
Berbagai ritual sufisme masih rutin diselenggarakan di sana. Mulai dari ziarah kubur, pengkultusan orang-orang yang dianggap saleh, tata cara zikir dan selawat yang menyelisihi syariat, tabaruk (ngalap berkah) dan lain sebagainya.
Di antara kegiatan yang mencolok adalah kegiatan ziarah kubur orang-orang yang dianggap saleh. Salah satu yang paling terkenal adalah ziarah ke kuburan yang diyakini oleh sebagian masyarakat sebagai makam Hadun, yang disebut sebagai putra Nabi Hud ‘alaihis salam dan diyakini sebagai nabi.
Kuburan ini menjadi salah satu tempat yang diziarahi secara rutin setiap tahun oleh masyarakat setempat. Tidak hanya penduduk Dau’an, para peziarah juga datang dari berbagai daerah lain di Hadramaut. Bahkan sebagian peziarah datang dari luar negeri.
Di antara mereka adalah para pelajar dari Indonesia yang menuntut ilmu di kota Tarim, khususnya di lembaga pendidikan Darul Musthafa. Pada waktu-waktu tertentu mereka ikut menghadiri kegiatan ziarah tersebut bersama masyarakat setempat.
Di tengah kondisi tersebut, dakwah ahlus sunnah wal jamaah mulai berkembang di Dau’an sekitar tahun 1990-an. Perkembangan ini bermula ketika beberapa penuntut ilmu dari Dau’an kembali ke daerah mereka setelah belajar kepada ulama ahlus sunnah, di antaranya kepada seorang ulama besar di Yaman yaitu asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i.
Sekembalinya mereka ke Dau’an, para penuntut ilmu tersebut mulai menyampaikan dakwah tauhid dan sunnah kepada masyarakat. Dakwah ini dilakukan secara bertahap dan dengan penuh kesabaran. Mereka mengajarkan pentingnya memurnikan ibadah hanya kepada Allah, serta menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.
Seiring berjalannya waktu, dakwah ini mulai dikenal oleh masyarakat. Walaupun tidak selalu mudah, para dai tetap berusaha menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik dan penuh hikmah.

Alhamdulillah, dengan karunia Allah Taala, dakwah ahlus sunnah di Dau’an terus berkembang hingga sekarang. Saat ini terdapat sekitar sebelas masjid yang menjadi pusat kegiatan dakwah ahlus sunnah di berbagai wilayah Dau’an.
Masjid-masjid tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan, di antaranya:
– Pelaksanaan salat lima waktu secara berjamaah.
– Khutbah dan salat Jumat.
– Majelis ilmu dan pengajian rutin.
– Kajian kitab-kitab para ulama ahlus sunnah.
– Salat tarawih pada bulan Ramadan.
– Halaqah al-Quran (TPQ).
– Dan kegiatan dakwah lainnya.
Melalui kegiatan-kegiatan ini, masyarakat dapat mempelajari tauhid dan ajaran Islam berdasarkan Al-Quran dan sunnah dengan pemahaman para sahabat dan ulama salaf.
Selain itu, para masyaikh dan penuntut ilmu juga sering datang ke Dau’an untuk mengisi kajian dan majelis ilmiah. Baik itu dari masyaikh Aden, masyaikh Hadramaut dan dari daerah lainnya.
Kehadiran para masyaikh dan para penuntut ilmu tersebut memberikan manfaat besar bagi giat dakwah di Dau’an, dari sisi meningkatkan semangat para dai dan ikhwah di Dau’an dan dari sisi masyarakat bisa langsung mengambil ilmu dan petuah dari para masyaikh.
Salah satu pendekatan penting dalam dakwah di Dau’an adalah menampilkan akhlak yang baik kepada masyarakat. Para dai serta ikhwah di sana berusaha berinteraksi dengan masyarakat dengan penuh sopan santun serta keramahan.
Menyapa masyarakat dan menyebarkan salam misalnya. Di samping merupakan sunah nabi yang mulia, hal ini juga sangat bermanfaat untuk meraih hati masyarakat.
Pendekatan ini sangat penting, karena dakwah bukan hanya disampaikan melalui lisan, tetapi juga melalui akhlak dan perilaku sehari-hari. Bahkan terkadang dakwah dengan menampilkan budi pekerti yang luhur lebih mengena di hati masyarakat sehingga lebih mudah bagi mereka untuk menerima dakwah sunnah ini.
Dengan menampilkan budi pekerti yang baik, masyarakat dapat melihat secara langsung keindahan ajaran Islam yang berlandaskan Al-Quran dan sunnah.
Allah Taala berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS An-Nahl: 125)
Ayat ini merupakan salah satu pedoman penting ketika berdakwah di masyarakat, terkhusus masyarakat yang masih awam dengan ilmu agama. Dakwah hendaknya dilakukan dengan penuh hikmah, kesabaran, dan cara yang lembut.
Rasulullah ﷺ juga bersabda,
إِنَّالرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِيشَيْءٍ إِلازَانَهُ. وَلَايُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاشَانَهُ
“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.” (HR Muslim no. 2594 di dalam sahihnya)
Dakwah ahlus sunnah di Dau’an merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, para dai terus berusaha menyampaikan tauhid dan ajaran Islam yang benar kepada masyarakat dengan cara yang baik dan penuh hikmah.
Dengan adanya masjid-masjid yang menjadi pusat kegiatan dakwah, majelis-majelis ilmu, serta kunjungan para masyaikh dan para penuntut ilmu, diharapkan dakwah ahlus sunnah di Dau’an akan terus berkembang dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat.
Semoga Allah Ta’ala memberikan keberkahan kepada para dai dan penuntut ilmu yang berjuang menyebarkan sunnah di berbagai tempat, serta menjadikan usaha mereka sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


