Di antara yang paling dinanti oleh para penuntut ilmu di negeri Yaman khususnya di daerah Aden adalah momen “Majlis Ilmi”. Program rutin dari Maktabul Awqaf wal Irsyad (Kantor Urusan Wakaf dan Bimbingan) Aden, yang berwenang mengurusi masjid, memilih para imam, mengatur ibadah dan kajian, sampai urusan haji dan umrah kaum muslimin di negeri Yaman.
Di negeri ini, kami melihat para masyaikh dan pemerintah bersinergi bersama dalam membimbing masyarakat.
Di antara keistimewaan Majlis Ilmi adalah: kitab atau risalah yang disampaikan itu dibagikan secara gratis bagi semua yang hadir. Risalah tersebut dibahas sampai selesai, dan sebagian risalahnya bersanad sampai kepada muallif (penulis kitab).
Terakhir kalinya Majlis Ilmi dilaksanakan, yaitu pada tanggal 4 Sya’ban lalu. Itu adalah Majlis Ilmi yang ke-29, bersama asy-Syaikh Imad bin Ahmad hafizhahullah.
Dan setelah dua bulan menunggu pengumuman, alhamdulillah keluarlah pengumuman Majlis Ilmi ke-30, yang menghadirkan Syaikhuna Abbas al-Jaunah hafizhahullah.
Karena Majlis Ilmi saat ini bertepatan dengan momentum persiapan haji, sehingga mengangkat tema: Hadits Jabir bin Abdillah fi Shifati Hajjatin Nabi ﷺ dari Sahih Muslim.
Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah semata kemudian antusias dari pemerintah dan ikhwah setempat, mereka telah memberikan suasana terbaik untuk para thullabul ilmi. Mulai dari menyiapkan modul kajian untuk dibagikan, membersihkan masjid, menyiapkan bukhur pengharum yang diletakkan di berbagai sisi masjid, menyalakan AC untuk mendinginkan ruangan di musim panas, hingga membagikan minuman dan makanan ringan saat waktu istirahat. Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan melimpah.
Kegiatan Majlis Ilmi berjalan lancar sampai akhir dengan penuh semangat dan antusias dari para thullabul ilmi di negeri ini.
Di antara yang menambah kebahagiaan kami, ternyata hadir di situ Syaikhuna Imad bin Ahmad hafizhahullah, beliau duduk seperti hadirin lainnya. Awal mula, kami tidak mengenalinya karena beliau menutupi sebagian wajahnya dengan sorban. Setelah selesai salat isya dan acara telah selesai, baru kami menyadari ternyata yang duduk di samping kami adalah Syaikh ‘Imad. Kami pun menyalaminya.
Ternyata di sisi lain ada Syaikh Jalal bin Tsabit hafizhahullah, kami pun berjalan ke arah beliau untuk bersalaman. Setelah bersalaman, di sisi yang lain ternyata ada Syaikh Abdur Rauf hafizhahullah yang paling dituakan di antara masyaikh Aden. Kami pun langsung mendatanginya dalam keadaan beliau duduk di kursi dan dibantu oleh sebagian murid-muridnya. Kami pun menyalaminya, cipika-cipiki, dan terakhir kami mencium kepalanya sebagaimana kebiasaan para salaf dahulu sebagai bentuk penghormatan atau kasih sayang.
Malam yang penuh kebahagiaan ketika melihat banyak masyaikh yang hadir, termasuk pula Syaikh Zakariya, Syaikh Shalih al-Bakriy dan masyaikh lainnya, hafizhahumullah.
Melihat persaudaraan di antara para penuntut ilmu salafiyyin, kita pun teringat nasihat yang sering diulang-ulang oleh Syaikh Rabi’ rahimahullah tentang pentingnya menjaga persaudaraan di antara salafiyyin. Di antaranya adalah nasihat yang beliau sampaikan kepada salafiyyin di Aljazair:
فهذا واجب الجميع اليوم -وأقولها من قبل اليوم- لمَّا رأيت الدَّمَار ،لمَّا رأيت هذا البلاء أقول: عليكم بالرفق -بارك الله فيكم- ,عليكم باللِّين ، عليكم بالتَّآخي ، عليكم بالتَّراحم
“Maka ini adalah kewajiban bagi kita semua saat ini —bahkan sudah saya katakan sejak sebelumnya— ketika saya melihat bencana dan musibah ini.
Hendaklah kalian bersikap lembut, barakallahu fiikum. Hendaklah kalian bersikap lunak, hendaklah kalian saling bersaudara, hendaklah kalian saling menyayangi.
الآن هذه الشِّدَّة توجَّهَتْ إلى أهل السنَّة أنفسهم! تركوا أهل البدع والضَّلال واتَّجهُوا إلى أهل السنَّة بهذه الشِّدَّة المهلكة! وتخللها ظلم وأحكام باطلة ظالمة!!
فإيَّاكم ثمَّ إيَّاكم أن تسلكوا هذا المسلك الذي يهلككم ويهلك الدعوة السلفية ويهلك أهلها. أدعُ إلى الله عزَّ شأنه بكل ما تستطيع، بالحجة والبرهان في كل مكان
Sekarang ini, sikap keras justru diarahkan kepada ahlus sunnah sendiri! Mereka meninggalkan ahli bidah dan kesesatan, lalu beralih kepada ahlus sunnah dengan sikap keras yang membinasakan ini! Yang di dalamnya terdapat kezaliman serta vonis yang batil dan zalim!
Maka berhati-hatilah kalian dari menempuh metode ini, yang akan membinasakan kalian, membinasakan dakwah salafiyyah, dan membinasakan para pengikutnya. Berdakwahlah kepada Allah semampu kalian, dengan hujjah dan dalil.”
Inilah yang kami saksikan, indahnya ukhuwah dan persaudaraan di antara para thullabul ilmi, sifat tawadu dan saling menghormati di antara para masyaikh hafizhahumullahu jami’an.
Saat perjalanan pulang, tanpa sengaja kami berpapasan dengan Syaikhuna Munir As-Sa’di hafizhahullah, kendaraan kami bersebelahan dengan mobil beliau, maka kami ucapkan salam kepada beliau, menanyakan kabar Syaikh, dan seterusnya dari perbincangan ringan.
Sungguh benar apa yang di sampaikan Rasul ﷺ: Yaman negeri iman, negeri hikmah.
Semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepada seluruh ulama dan umara muslimin, serta menjaga mereka dari kejahatan musuh-musuh Islam. Semoga Allah berikan kepada seluruh kaum muslimin taufik untuk saling bersaudara dan mencintai ilmu yang bersumber dari Al-Quran dan sunnah ini, amin.


