24 Maret 2026 17:06

Setiap setengah jam sebelum azan magrib berkumandang, Di pedalaman Hadramaut, salah satu dari kami pergi melangkahkan kaki ke sebuah desa kecil nan sepi dengan masjid mungilnya.

Desa Kecil Terisolasi

Desa kecil itu bernama His-yah Sufla (حسية سفلى), sebuah desa kecil bertetangga dengan desa Maqar di pedalaman yang hanya dihuni segelintir KK saja. Di sini tidak ada lahan pekerjaan maupun tempat pendidikan yang memadai, hanya ada pendidikan sekolah dasar.

Warga lokal yang ingin melanjutkan pendidikan atau mencari pekerjaan harus keluar merantau. Turun ke lembah Dau’an atau pergi ke kota Mukalla dan Say’un. Jika tidak, mereka hanya akan berdiam diri di rumah, membantu keluarga, atau menggembalakan kambing.

Minim Jamaah Salat

Penduduknya yang sedikit dan kebanyakan mereka merantau keluar desa, ditambah lagi minimnya ilmu agama di tengah masyarakat, membuat kegiatan ibadah terutama pelaksanaan salat lima waktu berjamaah sangat redup di desa ini.

Di desa ini sebagian besar penduduk tidak menghadiri salat berjamaah dan mencukupkan diri dengan salat di rumah masing-masing. Mereka beralasan mengikuti pendapat sebagian ulama bahwa salat berjamaah hukumnya sunah dan tidak wajib.

Pelipur Lara dan Secercah Harapan

Di tengah kondisi penduduk yang demikian, alhamdulillah masih ada dua kakek yang selalu istiqamah melaksanakan salat bersama kami.

Kadang juga ada satu dua pemuda yang bergantian hadir bersama beliau. Dan itu menjadi harapan besar buat kami untuk hidayah dan kebaikan bagi mereka.

Penutup

Pada awalnya mungkin kita berkecil hati dan meremehkan, “Cuma dua orang makmum.” Namun, bila kita lihat dari sudut pandang yang berbeda, bagi dua makmum itu keberadaan kita mungkin sangat berarti. Bisa jadi kita menjadi bahan bakar buat semangat mereka, ta’awun kita telah sedikit banyak meringankan mereka dalam melaksanakan salat taraweh, dan kehadiran kita mewarnai rutinas Ramadan di tempat mereka.

Ini bukan hanya tentang “cuma sekian” tapi tentang upaya memberikan manfaat walau sekecil apa pun, semoga Allah Taala menjadikannya amalan baik yang diterima.

Dalam al-Quran Allah Taala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS Al-Ma’idah: 2)

Dan di dalam hadis disebutkan

لا تحقرن من المعروف شيئا

“Jangan remehkan kebaikan sekecil apapun” (HR. Muslim)

Semoga Allah menerima amalan-amalan baik kita dan mengampuni dosa-dosa kita di bulan yang mulia ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *