Di sebuah taman bermain, ada dua anak yang asyik dengan permainannya. Mereka tertawa, bercanda, dan larut dalam kebahagiaan.
Namun beberapa saat kemudian, tawa itu hilang. Canda tak lagi terdengar. Mereka mulai berdebat, saling menyalahkan—padahal hanya perkara sepele. Bahkan mereka berteriak dan saling memukul, menangis seakan dunia akan berakhir.
Aneh, kondisi itu tak berlangsung lama. Tak butuh waktu panjang, mereka kembali bermain bersama, tertawa, dan berbicara seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Ternyata, anak kecil lebih memahami sesuatu yang sering dilupakan orang dewasa: dendam tidak perlu disimpan.
Allah ﷻ berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah pemaaf, perintahkan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)
Dan Allah juga berfirman:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)
Seakan ayat ini menegur kita: kita ingin diampuni, tapi sulit memaafkan.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seseorang memberi maaf, kecuali Allah akan menambah kemuliaannya.” (HR. Muslim)
Namun kenyataannya, memaafkan terasa berat. Bukan karena kita tidak mampu, tapi karena kita terlalu pandai mengingat.
Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
“Di antara obat hati yang paling ampuh adalah memaafkan kesalahan orang lain.” (Madarij al-Salikin
Jilid 2, hlm. 293–305).
Dan Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله memberikan gambaran yang indah:
“Bergaullah dengan manusia seperti pohon kurma. Mereka melemparimu dengan batu, namun engkau membalas dengan buah yang manis.” (Hilyat al-Awliya, Jilid 2, hlm. 147–148).
Anak-anak itu mengajarkan kita tanpa ceramah panjang: mereka bertengkar, tapi tidak menyimpan dendam. Mereka menangis, tapi tidak mengabadikan luka. Sedangkan kita, sering kali menyimpan, mengingat, bahkan merawat luka itu bertahun-tahun.
Padahal, bisa jadi yang paling kita butuhkan bukan balasan, tapi keikhlasan untuk memaafkan. Karena pada akhirnya, yang paling ringan hatinya bukan yang paling kuat membalas, tapi yang paling lapang dalam memaafkan.
Pelajaran besar dari anak kecil!

