Di penghujung pelajaran kitab Ahkamul Janaiz, syaikh kami Abbas al-Jaunah menyampaikan sebuah faedah yang sangat menyentuh dari kisah wafatnya Abu Zur’ah ar-Razi, seorang ulama besar yang pernah dikenal oleh kaum muslimin.
Beliau adalah ulama yang berasal dari Ray, seorang imam besar dalam ilmu hadis yang dijuluki sebagai “gunung hafalan” karena keluasan ilmu dan kekuatan hafalannya. Beliau termasuk salah satu pilar utama dalam ilmu hadis dan jarh wa ta’dil.
Kisah yang dibawakan oleh syaikh adalah kisah wafat beliau. Sebuah kisah yang sangat masyhur dalam sejarah Islam, karena menunjukkan fenomena husnul khatimah melalui kecintaan beliau terhadap ilmu hadis hingga akhir hayatnya.
Peristiwa ini terjadi pada tahun 264 H di kota Ray. Sejumlah ulama besar yang merupakan sahabat dan murid beliau hadir di sisi beliau saat sakaratul maut, di antaranya Abu Hatim ar-Razi dan Muhammad bin Muslim bin Warah.
Para ulama yang hadir ingin mentalqin Abu Zur’ah agar mengucapkan kalimat tauhid, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Talkinlah orang yang akan meninggal di antara kalian dengan ucapan Laa ilaaha illallah.”(HR. Muslim)
Namun mereka merasa segan untuk langsung menuntun beliau, karena kedudukan Abu Zur’ah yang jauh lebih tinggi dalam keilmuan dibanding mereka.
Akhirnya, Muhammad bin Muslim bin Warah mengusulkan:
“Mari kita sebutkan saja hadis tentang talkin.” Demikian idenya untuk memancing Abu Zur’ah.

Muhammad bin Muslim pun mulai membacakan sanad hadis tersebut:
“Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih bin Abi …” berhenti sampai di sini dan tidak melanjutkannya.
Abu Hatim pun melakukan hal yang sama, “Telah menceritakan kepada kami Budar, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim, dari ‘Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih …” lalu berhenti. Sementara para pembesuk lainnya hanya diam.
Akhirnya, dalam keadaan tubuh yang sangat lemah dan napas yang hampir terputus, Abu Zur’ah ar-Razi membuka matanya, lalu menyambung sanad tersebut dengan hafalan yang sempurna:
“Telah menceritakan kepada kami Bundar, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim, dari ‘Abdul Hamid, dari Shalih bin Abi ‘Arib, dari Katsir bin Murrah, dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
‘Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah Laa ilaaha illallah, maka ia akan masuk surga.’”
Disebutkan bahwa ketika beliau sampai pada huruf terakhir dari lafazh “Allah”, ruh beliau pun keluar meninggalkan jasadnya.
Beliau wafat tepat setelah menyelesaikan hadis tersebut.
Kisah ini bukan sekadar kisah tentang kuatnya hafalan seorang ulama hingga akhir hayatnya. Namun tentang bagaimana seseorang akan diwafatkan di atas sesuatu yang paling ia cintai.
Abu Zur’ah ar-Razi hidup bersama hadis, belajar hadis, menghafal hadis, mengajarkan hadis, membela hadis, dan akhirnya wafat sambil meriwayatkan hadis Rasulullah ﷺ.
Inilah makna penting dari istikamah dalam kebaikan. Karena sering kali akhir kehidupan seseorang adalah cerminan dari apa yang paling memenuhi hatinya selama hidup.
Sebagian ulama mengatakan:
“Barangsiapa hidup di atas sesuatu, maka besar kemungkinan ia akan wafat di atasnya.”
Demikian pula seorang penuntut ilmu, hendaknya tidak hanya sibuk mengumpulkan ilmu, tetapi juga berusaha mencintai ilmu tersebut dengan hati, mengamalkannya dengan ikhlas, serta menjadikannya bagian dari hidupnya sehari-hari.
Karena husnul khatimah bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba di akhir usia, tetapi buah dari perjalanan panjang dalam ketaatan, keikhlasan, dan istikamah.
رحم الله الإمام أبا زرعة الرازي رحمة واسعة وجزاه عن الإسلام والمسلمين خير الجزاء.
Referensi: Siyar A’lamin Nubala


