13 Maret 2026 20:09

Ketika zaman moderen mengajarkan kita membangun rumah dengan berbagai kemegahan dan pernak-perniknya, masih ada sebuah negeri yang penduduk desanya mempertahankan metode pembangunan tradisional dengan tanah liat.

Ya, di sebagian daerah negeri Yaman, penduduknya lebih mengedepankan manfaat yang mereka dapatkan daripada sekadar mencari validasi dari bani Adam.

Lembah Dauan dan Penduduknya

Desa Maqar, sebuah desa yang berada di wilayah Dauan, Hadramaut.

Di sinilah kami -sebagai salah satu rombongan thullab yang dikirim untuk menjalankan tugas imam dan dakwah selama bulan Ramadan- menjadi saksi mata kesederhanaan warga desa.

Mereka menjadi bukti bahwa di zaman moderen ini, manusia masih bisa hidup meski tanpa internet, media sosial, bahkan terkadang tanpa listrik.

Rumah Adalah Tempat yang Nyaman dan Aman.

Sebagaimana telah disebutkan di awal, zaman moderen terus menarik kita untuk terus mengikuti perkembangannya. Termasuk di antaranya dalam hal bangunan.

Di masa kini, banyak bermunculan bangunan rumah yang megah dari luar, namun rapuh dari dalam.

Nah, di desa ini, mereka masih mempertahankan gaya pembangunan kuno. Sederhana, namun tetap nyaman dan kokoh. Inilah hakikat rumah seharusnya, bukan malah sebaliknya.

Tampak luarnya sangat sederhana dan itu berlaku hampir di semua rumah. Namun apabila masuk ke dalamnya, terasa nyaman dan juga menghangatkan tubuh dari dinginnya udara desa.

Rumah Tanah Liat di Desa Maqar, Wadi Dau’an, Hadramaut

Rumah Tanah Liat dan Manfaatnya

Tanpa banyak yang menyadari, rumah berbahan dasar tanah liat memiliki banyak manfaat. Di antaranya:

  1. Kokoh dari berbagai cuaca ekstrem. Seperti di negara-negara Arab yang sering dilanda badai pasir, termasuk Yaman.
  2. Menjaga suhu ruangan.
  • Ia bekerja sebagai penghangat alami. Terutama di beberapa desa yang ketika musim dingin, suhunya sangat rendah. Sebagiannya daerah bahkan tetap dingin meski sedang berada di musim panas, termasuk desa kami.
  • Dinding tanah liat yang tebal juga dapat menjaga suhu ruangan dari panasnya terik matahari.
  1. Privasi keluarga. Tebalnya dinding dapat lebih meredam suara yang berasal dari dalam rumah.
  2. Ramah lingkungan dan mencegah banyaknya limbah yang disebabkan oleh pembangunan.

Masih banyak lagi manfaat lainnya, tergantung kondisi dan kebutuhan di setiap daerah.

Simbol Kesederhanaan

Titik fokus kita pada apa yang mereka tampilkan dari kesederhanaan dan tidak berbangga-bangga dengan dunia yang dimiliki. Mengingatkan kita pada firman Allah Taala:

﴿اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kalian serta berlomba-lomba dalam memperbanyak harta dan anak. Seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian ia menjadi kering dan kamu melihatnya menguning lalu hancur.” (QS Al-Hadid: 20)

Dan juga sabda Nabi:

كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR Bukhari)

Seorang musafir tidak membangun istana di tempat singgahnya, karena dia tau bahwa ia hanya singgah sementara dan akan melanjutkan perjalanannya.

Penutup

Selain membawakan kesan sederhara, hal ini juga mengingatkan pada asal penciptaan kita. Rumah yang terbuat dari tanah liat ini dihuni oleh manusia yang juga tercipta dari tanah, dan pada akhirnya akan kembali ke tanah. Allah taala berfirman:

وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنسَانِ مِن طِينٍ

“Dan Dia memulai penciptaan manusia dari tanah liat.” (QS As-Sajdah: 7)

Dan juga firman-Nya:

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

“Dari bumi itulah Kami menciptakan kalian, ke dalamnya Kami akan mengembalikan kalian, dan darinya pula Kami akan mengeluarkan kalian sekali lagi (pada hari kebangkitan).” (QS Taha: 55)

Maka sudah seharusnya kita sadar bahwa dunia hanya persinggahan sementara. Rumah terakhir kita di dunia bukanlah bangunan megah yang kita banggakan, melainkan kuburan yang hanya berupa galian tanah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *