ADEN — Menjelang pelaksanaan salat Iduladha 1447 H, pengumuman pelaksanaan salat id telah tersebar luas di tengah masyarakat. Memuat titik-titik pelaksanaan salat beserta nama para imam dan lokasi musala yang tersebar di berbagai distrik kota.
Imam dan khatibnya adalah para masyaikh dan penuntut ilmu yang akan menyebar di banyak titik. Hal ini seperti menampakkan pesan tersirat di baliknya: persatuan para masyaikh dan pendakwah, serta kesungguhan mereka dalam menghidupkan dakwah ahlussunnah di tengah masyarakat.
Berbagai musala id didirikan di banyak kawasan strategis Aden, mulai dari lapangan terbuka, kompleks permukiman, hingga stadion-stadion besar yang menjadi pusat keramaian warga. Hal ini menunjukkan perhatian para ulama terhadap pentingnya menjangkau masyarakat secara luas, agar syiar Islam dapat dirasakan oleh seluruh lapisan warga kota.
Beberapa lokasi besar yang menjadi titik berkumpulnya masyarakat, di antaranya adalah Musala Stadion Al-Manshurah di kawasan Hasyid, Stadion Ar-Raudhah di Al-Qal’ah, hingga Stadion an-Nashr di Dar Sa’d.
Kehadiran para ulama di tempat-tempat strategis ini memberi gambaran tentang bagaimana dakwah salafiyyah bukan dakwah yang eksklusif, ia menyeru seluruh kaum muslimin dari berbagai latar belakang untuk beragama sesuai pemahaman para salaf.
Yang menarik, pelaksanaan salat id di seluruh titik tersebut dilakukan secara serempak pada pukul 06.00 pagi. Keseragaman waktu ini mengikuti arahan resmi dari Maktabul Awqaf wal Irsyad Aden, sebagai bentuk keteraturan dan persatuan dalam pelaksanaan syiar Islam di kota tersebut.

Nama-nama para imam yang diumumkan berasal dari berbagai wilayah di Aden, namun seluruhnya bersatu dalam satu tujuan: menyampaikan dakwah tauhid dan menghidupkan syariat Allah di tengah masyarakat.
Selain itu, juga tersedia area khusus bagi jamaah perempuan di semua lokasi, menunjukkan perhatian terhadap kenyamanan dan keterlibatan seluruh kaum muslimin dalam pelaksanaan ibadah id.
Di tengah kondisi umat yang sering diwarnai perpecahan dan perdebatan, pemandangan persatuan para masyaikh di Aden ini menjadi potret yang menenangkan. Mereka bersama-sama turun ke lapangan, menyapa masyarakat, mengimami salat, dan menyampaikan khutbah di berbagai penjuru kota, demi menjaga cahaya dakwah tetap hidup di tengah masyarakat Aden.
Pelaksanaan salat Iduladha tahun bukan sekadar agenda ibadah tahunan, melainkan juga menjadi simbol kebersamaan, keteraturan, dan kuatnya hubungan antara ulama dan masyarakat dalam membangun kehidupan Islami di Kota Aden.
















