4 Juni 2026 18:53

Markiz Aisyah, Rabu 10 Zulhijjah 1447 H, di hari-hari Iduladha yang begitu berbahagia.

Angin sepoi berembus lembut menyentuh kulit, sejenak membuat udara kota Aden terasa lebih sejuk. Dari kejauhan tampak beberapa bintang yang menghiasi langit malam, ditemani bulan yang hampir sempurna bulatannya, menambah syahdu suasana.

Malam tasyrik kali ini terasa sedikit berbeda. Pasalnya, kami kedatangan beberapa thullab Indonesia dari Masjid Ibnu Abbas yang diampu oleh Syaikh Munir as-Sa’di, juga teman-teman dari Ma’had Al-Fath yang diampu oleh Syaikh Shalah Kantusy, serta beberapa rekan seperjuangan dari Masjid Ar-Ridha yang diasuh oleh Syaikh Zakariya — hafizhahumullah.

Kehadiran mereka menambah kehangatan dan kebahagiaan pada malam yang penuh berkah ini.

Sungguh benar apa yang diucapkan oleh Imam Muhammad bin Wasi’ rahimahullah,

ما بقي في الدنيا شيء ألذ به إلا الصلاة جماعة ولقى الإخوان

“Tidak ada perkara yang lebih lezat di dunia ini, yang melebihi kelezatan salat jamaah dan bertemu saudara-saudara seiman.” (Az-Zuhd hlm. 254)

Ramah Tamah Thullab Indonesia

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata,

فأيام التشريق  يجتمع فيها للمؤمنين نعيم أبدانهم بالأكل والشرب، ونعيم قلوبهم بالذكر والشكر

“Hari-hari Tasyrik adalah hari terkumpul padanya untuk kaum mukminin kenikmatan badan dengan makan dan minum, serta kenikmatan hati dengan berzikir dan bersyukur.” (Lathaif al-Ma’arif hlm. 507)

Begitu lengkap rasanya kebahagiaan di hari Tasyrik kali ini. Di pagi hari, kami menyembelih seekor sapi dan beberapa ekor kambing. Kemudian pada malam harinya, kami berjumpa dengan teman-teman seperjuangan dalam acara ramah tamah sambil menikmati hidangan Idul Adha.

Kegiatan ini tentunya terlaksana atas izin dan persetujuan dari Syaikh Abbas Al-Jaunah hafizhahullah.

Pesan dan Nasihat

Di kesempatan ini, beberapa perwakilan menyampaikan nasihat dan pesan kepada kami semua.

“Malam ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ia adalah perjumpaan hati yang dipersatukan oleh ilmu, dinaungi oleh adab, dan diikat oleh iman.

نجتمعُ لا لِدُنْيَا تُصَابُ، ولا لِمَجْلِسٍ يُذْكَرُ، ولكنْ لِأُخُوَّةٍ تُرْجَى، ومحبّةٍ في اللهِ تُدَّخَرُ.

Kita berkumpul bukan untuk mengejar dunia, bukan pula agar nama dikenang, namun demi ukhuwah yang diharapkan keberkahannya, dan cinta karena Allah yang tersimpan sebagai amal.”

Demikian ungkap salah seorang perwakilan dari Markiz Aisyah.

Selanjutnya, perwakilan dari Masjid Ibnu Abbas turut menyampaikan nasihatnya:

“Sesungguhnya majelis seperti ini bukan sekadar tempat berkumpul untuk makan dan minum semata, tetapi juga sebagai sarana untuk mempererat ukhuwah, memperkuat rasa cinta dan kebersamaan, serta memperbarui hubungan silaturahmi di antara kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara.’ (QS. Al-Hujurat: 10)

Oleh karena itu, ukhuwah merupakan nikmat yang sangat besar dan harus senantiasa dijaga. Di antara cara menjaganya adalah dengan saling mengunjungi, saling menanyakan kabar, saling membantu dalam kebaikan, dan saling memaafkan. Sebab, setan senantiasa berusaha memecah belah hati manusia, menimbulkan perselisihan, serta merusak ikatan persaudaraan di antara kaum muslimin.”

Akhir Pertemuan

Sebelum teman-teman kami dari Masjid Ibnu Abbas beranjak pulang, mereka terlebih dahulu berpamitan, menyampaikan rasa syukur, dan saling mendoakan kebaikan. Tak lupa, mereka juga menerima hadiah seekor kambing untuk disembelih di Masjid Ibnu Abbas, mengingat masih terdapat beberapa ekor kambing di Markiz Aisyah yang belum disembelih.

Kami berharap pertemuan ini menjadi sarana untuk mempererat hubungan di antara kita serta menumbuhkan ukhuwah yang dibangun di atas keimanan kepada Allah.

Semoga Allah Subhanahu wa Taala senantiasa menghimpunkan hati-hati kita di atas kebenaran dan menjadikan ukhuwah yang kita bangun ini selalu berada di bawah bimbingan kibar ulama Ahlussunnah. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *