7 Juli 2026 21:00

Catatan dari sepekan Daurah al-Imam Ibnul Qayyim ke-13 di Yaman

Tak terasa, satu pekan lebih telah berlalu sejak dimulainya Daurah al-Imam Ibnul Qayyim ke-13. Hari-hari itu terasa berjalan begitu cepat, seolah waktu enggan memberi kesempatan lebih lama kepada para penuntut ilmu untuk menikmati manisnya majelis ilmu.

Begitu banyak faedah, nasihat, dan pelajaran berharga yang Allah karuniakan kepada kami. Menuntut ilmu benar-benar menghadirkan kenikmatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Lebih dari itu, pertemuan dengan saudara-saudara sesama ahlus sunnah dari berbagai penjuru semakin menguatkan dakwah ini dan semakin merekatkan ukhuwah di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Setiap hari kami berpindah dari satu pelajaran ke pelajaran berikutnya. Semangat para masyaikh seakan tak pernah surut. Meski jadwal padat dan waktu mengajar terbatas, mereka tetap menyampaikan faedah demi faedah serta nasihat demi nasihat dengan penuh kesungguhan. Mereka mengetahui, sebagaimana kami pun menyadari, bahwa pertemuan ini hanyalah sementara. Betapa sayang jika kesempatan yang begitu berharga dilewatkan tanpa mengambil bekal sebanyak-banyaknya.

Yang semakin menambah semarak daurah ini adalah hadirnya para thullabul ‘ilmi dari berbagai daerah di Yaman, bahkan dari luar negeri. Mereka menempuh perjalanan yang panjang, mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya demi menghadiri sebuah majelis yang Rasulullah ﷺ gambarkan sebagai taman-taman surga. Maka tidak mengherankan apabila setiap kesempatan untuk duduk di dalamnya mereka manfaatkan sebaik mungkin.

Sepekan Bersama Berbagai Cabang Ilmu

Pada pekan pertama, kami dimanjakan dengan berbagai disiplin ilmu syar’i yang disampaikan secara ringkas, padat, namun sangat jelas. Keterbatasan waktu—yang hanya memberikan kesempatan sekitar satu pekan bagi setiap masyaikh—membuat penyampaian materi benar-benar difokuskan pada inti pembahasan sehingga mudah dipahami dan kaya akan faedah.

Di antara pelajaran yang paling membekas dalam hati adalah faedah yang disampaikan oleh Syaikh ‘Imad bin Ahmad hafizhahullah. Beliau menukil sebuah ucapan emas dari al-Imam asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab Syarh ash-Shudur fi Tahrim Raf’il Qubur:

“أن الحق لا يعرف بالرجال بل الرجال يعرفون بالحق.”

“Sesungguhnya kebenaran itu tidak dikenal karena tokohnya, tetapi para tokohlah yang dikenal karena kebenaran.”

Kalimat yang singkat, namun sarat makna.

Ucapan ini menjadi pengingat bahwa ukuran kebenaran bukanlah siapa yang berbicara, seberapa terkenal namanya, atau sebanyak apa pengikutnya. Tolok ukur kebenaran hanyalah Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para salafus shalih.

Di zaman ini, tidak sedikit orang yang begitu mudah terpukau oleh kepiawaian seorang pembicara tanpa terlebih dahulu menimbang apakah ucapannya benar-benar berlandaskan dalil atau sekadar mengikuti hawa nafsu. Padahal, seorang muslim dituntut untuk mencintai kebenaran lebih daripada mencintai tokoh.

Nasihat Seorang Ayah untuk Anak-Anaknya

Memasuki pekan kedua, kami kembali menghadiri pelajaran bersama Syaikh Shalah Kantusy hafizhahullah. Di sela-sela pelajaran, beliau menyampaikan sebuah wasiat yang sangat menyentuh dari guru besar dakwah Salafiyyah di Yaman, Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah.

Beliau berkata:

“يا أبنائي اطلبوا العلم، فوالله ما ندري متى نحرم من هذا الخير.”

“Wahai anak-anakku, tuntutlah ilmu. Demi Allah, kita tidak mengetahui kapan kita akan terhalang dari kebaikan ini.”

Betapa dalam makna nasihat tersebut.

Kalimat itu seolah menggugah hati kami agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sedang Allah bentangkan di hadapan kami. Sebab, tidak ada seorang pun yang mengetahui sampai kapan ia masih diberi kemampuan untuk menghadiri majelis ilmu.

Ketika melihat keadaan saudara-saudara kita di berbagai belahan dunia, hati semakin tersentuh. Betapa banyak di antara mereka yang sangat sulit mengadakan majelis ilmu. Bahkan, sebagian tidak mampu menyelenggarakan halaqah Al-Qur’an secara terbuka karena berbagai tekanan dan keadaan yang mereka hadapi.

Saat itulah kami semakin menyadari bahwa kesempatan yang kami rasakan hari ini merupakan nikmat yang luar biasa besar.

Nikmat yang Patut Disyukuri

Berulang kali para masyaikh mengingatkan kami agar senantiasa mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada para penuntut ilmu di negeri Yaman.

Dengan pertolongan Allah semata, kemudian dukungan pemerintah setempat terhadap berbagai kegiatan keagamaan, Daurah al-Imam Ibnul Qayyim dapat terus terselenggara hingga tahun ke-13 dengan aman, tertib, dan sesuai prosedur.

Bahkan, berbagai sunnah yang selama ini kami pelajari terasa begitu mudah diamalkan karena budaya masyarakat dan kebiasaan penduduk setempat sangat dekat dengan pengamalan sunnah.

Sungguh, ini merupakan nikmat yang tidak semua orang dapat rasakan.

Penutup

Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar senantiasa menjaga negeri ini dari berbagai fitnah, menjaga keamanan serta ketenteramannya, dan membalas seluruh kebaikan para penyelenggara daurah, para masyaikh, serta semua pihak yang telah berkhidmat demi terselenggaranya majelis-majelis ilmu ini dengan balasan yang sebaik-baiknya.

Semoga Allah menjadikan ilmu yang kami pelajari sebagai ilmu yang bermanfaat, mengokohkan kami di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta mengumpulkan kita semua di taman-taman surga sebagaimana Dia telah mempertemukan kami di taman-taman ilmu di dunia.

اللهم آمين.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *