MANISNYA ILMU – Ada yang terasa berbeda dari pelajaran Syaikh Abbas Al-Jaunah pada Daurah Ibnul Qayyim ke-13 kali ini.
Beliau tidak mengajar dengan cara menjelaskan modul halaman demi halaman. Tidak pula membawa materi tambahan yang harus disalin peserta. Bahkan sejak awal, beliau meminta untuk cukup peserta fokus mendengarkan dan memahami, bukan sibuk menulis.
Sebenarnya sudah ada materi yang ditetapkan panitia dan tersedia di modul: Bab Wakaf dari kitab Bulughul Maram. Tapi hanya ada tiga hadis di dalamnya untuk dibahas di dalam enam pertemuan selama sepekan.
Jadilah Syaikh Abbas di lima pertemuan pertama tidak membahas hadis-hadis itu, tapi menyampaikan hasil ringkasan dan catatan pribadi terkait wakaf yang telah beliau susun sendiri.
Isinya padat, ringkas, tetapi mampu memetakan hampir seluruh pembahasan penting dalam fikih wakaf. Semua dituangkan dalam bagan-bagan mind map yang sederhana dan mudah dipahami, lalu nantinya akan diketik dan dibagikan kepada siapa saja yang menginginkannya.
Yang paling menarik bukan sekadar sistematika penyampaiannya, melainkan keluasan pembahasannya. Setiap pertemuan dipenuhi faedah-faedah yang mungkin belum pernah kita dengar sebelumnya.
Sering kali muncul perasaan, “Ternyata fikih membahas persoalan kehidupan sedetail ini.” Ia menyentuh sisi-sisi yang bahkan tak disangka akan dibahas dalam fikih.
Misalnya, bagaimana hukum mewakafkan harta kepada janin yang masih berada di dalam kandungan? Bolehkah seseorang berwakaf untuk dirinya sendiri? Apakah boleh wakaf bertempo? Bagaimana rincian hukumnya menurut para ulama?
Begitu pula persoalan-persoalan yang sering dijumpai di tengah masyarakat, tetapi jarang diselesaikan secara fikih. Semisal siapa sebenarnya yang berwenang mengangkat nazir wakaf? Siapa yang berhak memberhentikannya? Dalam kondisi apa ia boleh dicopot dari jabatannya? Semua itu dibahas dengan landasan fikih yang runtut.

Rasanya luar biasa menyaksikan bagaimana enam puluh menit menjelang magrib dipenuhi materi yang benar-benar “berisi”. Hampir tidak ada waktu yang berlalu tanpa faedah baru.
Justru di situlah letak kenikmatan belajar. Semakin luas ilmu dibentangkan, semakin kita sadar betapa sedikit yang telah kita ketahui. Selalu ada ruang untuk bertanya, menelusuri dalil, memahami perbedaan pendapat, lalu mengagumi keluasan warisan para ulama.
Sebaliknya, bila ilmu hanya disajikan dalam bentuk pembahasan yang ringan dan serba sederhana, orang bisa saja merasa, “Kalau hanya seperti ini, siapa pun juga bisa.” Padahal, kesan seperti itu sering kali lahir bukan karena ilmunya memang dangkal, tetapi karena keluasan pembahasannya tidak pernah diperlihatkan.
Padahal ilmu sangat luas, ilmu itu berbobot. Allah telah mengatakan:
إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.”
Bagaimana kita bisa merasakan keindahan ilmu, jika kita hanya boleh mengenal satu pendapat, sementara pendapat lain yang bertentangan dianggap tidak layak dipelajari? Dari mana lahir keluasan pandangan bila kita tidak pernah diajak memahami alasan di balik perbedaan para ulama?
Bagaimana seorang akan tertantang untuk belajar jauh lebih dalam, jika pada akhirnya dia tidak berhak untuk memilih pendapatnya sendiri sesuai dengan kaedah ilmu yang telah dipelajari.
Justru ketika kita melihat berbagai sudut pandang, memahami kaidah-kaidahnya, dan mengetahui bagaimana para ulama beristidlal, saat itulah belajar terasa hidup. Ilmu bukan lagi sekadar hafalan, melainkan sebuah perjalanan yang penuh rasa ingin tahu.
Daurah yang berlangsung selama dua pekan ini benar-benar menghadirkan pengalaman itu. Setiap hari membuka pintu baru untuk menyadari bahwa lautan ilmu masih sangat luas, dan perjalanan menuntutnya adalah salah satu petualangan paling indah di jalan Allah.
Semoga Allah menganugerahi kita ilmu yang bermanfaat, pemahaman yang benar, adab yang baik kepada para ulama, dan taufik untuk istikamah di atasnya.


