10 Juli 2026 00:05

AT-TAFSIR WAL MUFASSIRUN – Pembahasan tentang tafsir Al-Qur’an termasuk ilmu yang tidak pernah selesai untuk dipelajari. Ia sangat penting untuk mendapat perhatian. Sebab Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan untuk ibadah, tetapi sumber pengetahuan serta petunjuk yang membicarakan kehidupan manusia sejak sebelum ia dilahirkan hingga hari kebangkitan.

Setiap ayatnya mengandung ilmu, susunan kalimatnya menyimpan hikmah, bahkan pengulangan huruf, kata atau kisah dalam Al-Qur’an pun tidak pernah hadir tanpa tujuan. Semakin seseorang mendalaminya, semakin ia menyadari betapa luas lautan makna yang terkandung di dalam Kalamullah.

Tidak mengherankan apabila para ulama besar menjadikan Al-Qur’an sebagai teman paling setia, bahkan dalam masa-masa sulit mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, di masa-masa pengasingannya di penjara, di balik jeruji besi yang mencekam, di bawah tekanan para sipir yang kejam, beliau justru mendapatkan waktu yang paling berharga untuk menyelami Al-Qur’an.

Dari sanalah lahir penyesalan yang begitu mendalam, kata beliau sendiri:

وقد فتح الله عليَّ في هذه المرة من معاني القرآن ومن أُصول العلم بأَشياء كان كثير من العلماء يتمنونها، وندمت على تضييع أكثر أوقاتي في غير معاني القرآن

“Pada masa ini Allah membukakan kepadaku berbagai makna Al-Qur’an dan pokok-pokok ilmu yang banyak diidam-idamkan para ulama. Dan aku menyesal telah menghabiskan sebagian besar waktuku untuk selain mendalami makna-makna Al-Qur’an.”(Al-Madakhil ila Atsar Syaikhil Islam, 76)

Khur Mukalla
Foto Oleh: Khalid Abdul Khaliq

Menumbuhkan Kecintaan Terhadap Ilmu Tafsir

Salah satu jalan terbaik untuk mencintai suatu disiplin ilmu adalah mengenal sejarahnya. Mengetahui bagaimana ilmu tafsir lahir, siapa tokoh-tokohnya, bagaimana metodologinya berkembang, serta apa saja kitab-kitab yang menjadi rujukan akan membuat kita memandang ilmu tersebut sebagai sebuah bangunan yang utuh.

Sejarah evolusi sebuah ilmu juga akan memberikan gambaran yang komprehensif tentang cara mempelajarinya secara terstruktur agar terasa lebih indah.

At-Tafsir wal Mufassirun dan Rekomendasi Syaikh Munir

Di sela-sela pelajaran Ushul fi at-Tafsir pada Daurah Imam Ibnul Qayyim kali ini, Syaikhuna Munir as-Sa’di sempat menyebut sebuah kitab yang beliau rekomendasikan kepada para penuntut ilmu.

“Kitab yang bagus, terdiri dari tiga jilid, kalau kalian menemukannya, belilah.”

Kitab itu adalah At-Tafsir wal Mufassirun yang ditulis oleh Prof. Dr. Muhammad Husain adz-Dzahabi sebagai disertasi doktoralnya di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar. Barangkali inilah salah satu sebab mengapa pembahasannya sangat sistematis dan penuh analisis. Pantas saja dengan itu beliau mendapat gelar Ustadz fi Ulumil Quran.

“Walaupun seorang lulusan Azhar, tapi secara umum beliau berjalan di atas jalannya ahlus-sunnah, semoga Allah merahmati beliau.” Kata Syaikh Munir ketika mengomentari penulisnya.

Kitab At-Tafsir wa Mufassirun
Sumber Gambar: https://www.facebook.com/Dar.al.ilm.Tunis/

Menyibak Perjalanan Ilmu Tafsir dalam at-Tafsir wal Mufassirun

Membaca kitab ini seolah diajak menyusuri perjalanan panjang ilmu tafsir sejak masa Rasulullah ﷺ hingga masa kontemporer.

Di dalamnya, pembaca akan menemukan sejarah perkembangan tafsir dari masa Nabi, para sahabat, tabi’in, hingga generasi setelahnya. Berbagai metode penafsiran dijelaskan secara sistematis; mulai dari tafsir bil ma’tsur, tafsir bir ra’yi, hingga corak-corak (madrasah) tafsir yang muncul pada masa-masa berikutnya.

Bukan hanya itu, penulis juga memperkenalkan para mufassir beserta latar belakang keilmuan, guru-guru mereka, kondisi sosial zamannya, serta karakteristik kitab-kitab tafsir yang mereka hasilkan. Setiap karya tidak hanya dipaparkan kelebihannya, tetapi juga dikaji secara kritis berdasarkan metode yang ditempuh, sumber-sumber yang digunakan, serta contoh-contoh penfsirannya.

Yang menarik, adz-Dzahabi tidak sekadar memuji. Beliau juga memberikan perhatian khusus terhadap berbagai penyimpangan dalam penafsiran Al-Qur’an yang bersumber dari riwayat Israiliyyat, hadis-hadis yang lemah, fanatisme mazhab, penyimpangan akidah, maupun penafsiran filosofis yang melampaui batas.

Di antara yang paling menarik adalah ketegasan beliau dalam mengkritisi tafsir Mu’tazilah seperti karya az-Zamakhsyari, tafsir sufi, serta tafsir Syiah. Kritik tersebut dibangun di atas argumentasi ilmiah yang menunjukkan bahwa beliau, sebagaimana komentar Syaikh Munir, secara umum berjalan di atas manhaj Ahlus Sunnah.

Suasana Masjid Zayed bin Sulthan di Sela-Sela Daurah
Foto oleh: Muhammad as-Sijnul Mubarak

Penilaian yang Objektif

Sebagaimana karya manusia lainnya, kitab ini bukan tanpa catatan. Syaikh Munir sendiri menyampaikan,

“Mungkin di dalamnya ada beberapa catatan. Tetapi secara umum, kitab ini sangat bagus sekali.”

Ungkapan yang mengajarkan adab para ulama dalam menilai sebuah karya: tidak menganggapnya sempurna, namun juga tidak menafikan manfaat besarnya. Jalla man la ‘aiba lah—Maha Suci Allah, satu-satunya Dzat yang tidak memiliki kekurangan.

Barangkali inilah yang membuat kitab ini begitu istimewa dan menjadi salah satu rujukan terpenting di hari ini. Ia bukan sekadar membahas satu kitab tafsir, bukan pula mendoktrinkan metode tertentu, melainkan menjadi seperti “peta besar” ensikopedia perjalanan tafsir dari masa Rasulullah ﷺ hingga abad ke-20.

Setiap tokoh ditempatkan pada zamannya, setiap kitab dijelaskan posisinya, dan setiap metode dipetakan dengan runtut sehingga pembaca dapat melihat hubungan antarsemuanya secara utuh.

Karenanya, kitab ini sangat cocok untuk dibaca oleh mahasiswa Ilmu Tafsir dan Ulumul Qur’an, peneliti sejarah tafsir, pengajar tafsir, atau siapa saja yang ingin memahami perkembangan metodologi tafsir secara mendalam.

Akhir Hayat Sang Penulis

Setelah bertahun-tahun masa hidup-hidupnya yang didedikasikan sebagai dosen, profesor, sekretaris Jenderal Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah, hingga Menteri Wakaf Mesir pada dekade 1970-an. Pada tahun 1977 M beliau wafat secara tragis karena diculik dan dibunuh oleh kelompok ekstremis Takfir wal-Hijrah.

Namun karya ilmiahnya tetap hidup, menjadi salah satu rujukan paling penting bagi siapa saja yang ingin mengenal sejarah panjang ilmu tafsir secara menyeluruh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *