24 Mei 2026 18:14

Mungkin, kita pernah mendengar sebuah ungkapan, ‘Bisa karena terbiasa.’ Sebuah kalimat sederhana yang sering diucapkan orang tua kepada anaknya, atau guru kepada muridnya.

Ungkapan tersebut mengajarkan bahwa sesuatu yang besar tidaklah lahir secara instan. Ia bermula dari langkah kecil yang terus diulang hingga menjadi kebiasaan. Maka jangan pernah merasa bahwa kita tidak mampu, sebab kemampuan itu tumbuh seiring latihan dan pembiasaan yang terus dilakukan.

Paksakan Saja

Memang terasa berat ketika seseorang ingin memulai suatu amalan. Namun dengan sedikit paksaan dan pembiasaan, sesuatu yang awalnya terasa berat lambat laun akan menjadi ringan untuk dijalankan. Karena itu, paksakanlah diri untuk memulai.

Paksalah diri untuk mencoba hal-hal yang positif, meskipun pada awalnya terasa sulit.

Seseorang yang ingin berhasil menghafal al-Quran satu juz setiap hari, harus melawan rasa malas yang muncul ketika menghafal. Ia harus memaksa dirinya untuk terus mengulang hafalan hingga hal itu menjadi kebiasaan dalam kesehariannya.

Demikian pula, seseorang akan lebih mudah bangun pada sepertiga malam terakhir untuk beribadah kepada Allah ketika ia telah membiasakan diri melakukannya.

Begitu juga dengan salat, sedekah, dan ibadah-ibadah lainnya. Seseorang akan merasa ringan mengerjakannya ketika ia membiasakan dirinya untuk terus melakukannya.

Ingatlah, bahwa seseorang itu bisa karena terbiasa.

Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

حافظوا على أبنائكم في الصلاة، وعودوهم الخير، فإن الخير عادة

“Jagalah anak-anak kalian untuk senantiasa mengerjakan salat. Biasakanlah mereka untuk berbuat kebaikan, sesungguhnya perbuatan baik itu muncul karena pembiasaan.”(Mushannaf Abdurrazzaq no. 7299)

Pasti Berat

Membiasakan diri dalam ketaatan memang tidak mudah. Ia membutuhkan perjuangan dan sedikit paksaan. Namun yakinlah, ketika seseorang telah terbiasa dengan ketaatan, maka amal tersebut akan terasa ringan untuk dikerjakan. Justru, seseorang akan merasa berat manakala ia meninggalkannya.

Karena itu, paksalah diri untuk berlatih dalam kebaikan, sebagaimana seorang anak kecil yang perlu dipaksa agar terbiasa belajar dan beribadah. Imam al-Hafizh al-Baihaqi rahimahullah mengatakan,

وهذا شعار الصالحين ومن سلف من المسلمين، يعودون صبيانهم الصوم والصلاة والخير، حتى يتعوَّدوا ذلك

“Inilah syiar orang-orang saleh dan para salaf dari kaum muslimin; mereka membiasakan anak-anak mereka untuk berpuasa, shalat, dan melakukan kebaikan, hingga mereka terbiasa dengan hal itu.” (Ma’rifah as-Sunan wa al-Atsar 6/358)

Si Tekun dan Si Pemalas

Pada hakikatnya, di dunia ini tidak ada manusia yang benar-benar bodoh. Yang membedakan hanyalah ada orang yang rajin dan tekun dalam belajar, sementara yang lain malas dan enggan untuk belajar.

Ketika seseorang ingin berhasil dalam belajar, ingin menjadi penghafal al-Qur’an 30 juz, atau ingin meraih cita-citanya, maka ia harus melawan rasa malas dan berat yang ada dalam dirinya. Ia harus memaksa dan membiasakan diri untuk terus belajar hingga akhirnya berhasil meraih apa yang ia impikan.

Karena itu, teruslah membiasakan diri dalam kebaikan. Ingatlah bahwa keberhasilan tidak akan diraih tanpa usaha dan perjuangan. Ilmu dan cita-cita tidak akan dapat dicapai dengan badan yang santai.

Di dalam Shahih Muslim, Yahya bin Abi Katsir rahimahullah menuturkan bahwa ia pernah mendengar ayahnya berkata,

ولا يستطاع العلم براحة الجسد

“Ilmu tidak akan didapatkan dengan tubuh yang santai.”

Semoga Allah Subhanahu wa Taala memberikan kemudahan kepada kita untuk membiasakan diri dalam kebaikan dan ketaatan kepada-Nya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *